Endometrium lamina propria endometrium, yang disebut stroma.

Endometrium tersusun atas jarinngan epitel silindris dan lamina propria yang mengandung kelenjar tubular simpleks. Terdapat dua macam sel epitel silindris pada endometrium, yaitu sel epitel dan sel epitel penggetah (sekretori). Epitel bersilia ini berfungsi untuk mendorong spermatozoa atau oosit yang sudah dibuahi, sedangakan sel epitel sekretori berfungsi untuk memproduksi lendir sebagai media bagi silia yang dapat mendukung aktivitasnya. Selain itu, epitel sekretori tersebut juga dapat memproduksi bahan kapasitasi bagi spermatozoa untuk memudahkan perjalanan sperma ke tempat pembuahan di infundibulum (Yatim, 1994).               Lamina propria juga dibedakan menjadi dua zona, yaitu zona fungsionalis dan zona basalis. Zona fungsionalis adalah bagian yang tersusun oleh epitel berbentuk kubus selapis, yang berfungsi untuk proses nidasi dan pembentukan plasenta, dan apabila tidak terjadi pembuahan maka bagian ini akan meluruh pada saat menstruasi. Sementara itu, zona basalis adalah bagian yang tetap bertahan selama terjadi proses menstruasi. Zona basalis terletak di bawah zona fungsionalis dan merupakan bagian yang berfungsi sebagai bahan dasar untuk proses regenerasi zona fungsionalis. Pada zona basalis juga terdapat kelenjar uterus yang berpangkal pada lamina propria endometrium, yang disebut stroma. Sel-sel stroma inilah yang dapat berubah menjadi sel-sel decidua untuk mempertebal endometrium secara keseluruhan. (Yatim, 1994).                Menurut Yatim (1994), struktur dan fungsi dari endometrium berhubungan dengan aktivitas hormon estrogen dan progesteron ovarium, sehingga perubahan yang terjadi pada endometrium ini terkait dengan respon terhadap perubahan hormon, stromal, dan vascular yang tujuan akhirnya adalah menyiapkan uterus untuk proses nidasi dan pembentukaan plasenta kalau nanti terjadi pembuahan. Lesson (1996) menjelaskan bahwa perubahan secara periodik terjadi pada lapisan endometrium, dimulai dari pubertas dan diakhiri pada saat menopause yang terdiri dari beberapa fase yaitu fase menstruasi, tahap proliferasi (folikuler), fase progestasi (luteal) dan fase iskemik atau pramenstruasi.        Fase proliferasi (follikuler) dimulai pada waktu berakhirnya menstruasi. Fase ini ditandai dengan banyaknya mitosis yang terjadi pada sel kelenjar endometrium dan stroma endometrium, dan penebalan endometrium dari ketebalan 1 mm atau lebih yang bersamaan dengan perkembangan folikel ovarium dan sekresi estrogen. Sekresi estrogen yang meningkat dalam darah, menyebabkan induksi proliferasi sel-sel pada ujung basal kelenjar membentuk epitel baru untuk menutupi permukaan endometrium yang meluruh dan regenerasi lapisan fungsional yang hilang selama menstruasi (Lessen, 1996). Selanjutnya, menurut Mescher (1979) ciri lain yang dapat menggambarkan fase proliferasi adalah endometrium dilapisi oleh epitel silindris selapis dan memiliki kelenjar uterus berbentuk tubulus lurus dengan lumen yang sempit.        Fase progestasi atau sekresi luteal dimulai ketika korpus luteum terbentuk dan mensekresikan progesteron. Tingginya kadar progesteron dalam darah ini dapat merangsang perkembangan sel-sel epitel kelenjar uterus untuk memproduksi sekret atau lendir yang terakumulasi pada lumen uterus. Oleh karena itu, endometrium pada fase ini mengalami penebalan hingga 5 mm dengan kelenjar yang bergerigi, akibat adanya hipertropi kelenjar. Saat menjelang akhir fase juga terjadi pembesaran sel-sel stroma, sitoplasma banyak mengandung ribosom dan jumlah glikogen yang melimpah (Lesson, 1996).